Translate

Minggu, 24 November 2019

Potensi Hiu Paus diIndonesia

Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Taman bermain hiu paus (whaleshark)
Hiu Paus di Indonesia 
Kekayaan alam laut Indonesia sangat beranekaragam baik hewan maupun tumbuhan. Salah satu kekayaan pada bidang perikanan yaitu, Hiu paus (Rhincodon typus) adalah hiu pemakan plankton yang merupakan spesies ikan terbesar. Ia memiliki  nama Inggris yaitu,  whale shark, karena ukuran tubuhnya yang besar dan kebiasaan makannya dengan menyaring air laut menyerupai kebanyakan jenis paus. dan hiu tutul (nama yang cenderung menggambarkan, karena banyak jenis hiu yang berpola tutul), merujuk pada pola warna di punggungnya yang bertotol-totol, serupa bintang di langit. Hiu paus ini bukan hanya terdapat di Taiwan, tetapi juga ada di Indonesia, tepatnya terdapat di Pulau Papua Teluk cendrawasih, sehingga saat ini hal tersebut menjadi salah satau daya tarik bagi turis yang berkunjung ke pulau itu. Mereka rela menghabiskan waktu hanya untuk menikmati pemandangan hiu paus yang sangat besar. Bukan hanya itu hiu paus yang terdapat diteluk cendawasih sangat jinak dan bersahabat dengan para penyelam. Hiu paus sudah menjadi teman bagi para penyelam yang sudah terbiasa menyelam diteluk tersebut. Hiu paus termasuk salah satu hewan langkah, sehingga terdapat larangan untuk membunuhnya.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih yang luas di bagian utara pulau Papua, atau dikenal sebagai Teluk Cenderawasih, termasuk taman nasional laut terbesar di Indonesia, dan merupakan salah satu tempat menyelam terbaik di Nusantara.
Di sini adalah tetesan vertikal yang megah, taman karang yang indah, kehidupan spons dan berjuta ikan.

Ini adalah taman bermain salah satu hewan terbesar di dunia: Hiu Paus (whaleshark) yang berbintik atau Rhincodon typus. Jika di tempat lain di dunia penyelam menganggap dirinya beruntung untuk bertemu salah satu atau beberapa, di sini mereka datang dalam jumlah yang besar dan penyelam bisa berenang bersama mereka tanpa cedera selain untuk berhati-hati untuk tidak terkena salah satu dari sirip mereka yang kuat.
 
Klasifikasi Ilmiah,
Kingdom  : Animalia
Filum       : Cordata
Kelas        : Chondrichthyes
SubKelas  : Elasmobranchii
Ordo         : Orectolobiformes
Famili       : Rhincodontidae
fil
SubKelas   : Elasmobranchii
Genus        : Rhincodon
Species      : R. typus
Hiu ini mengembara di samudera tropis dan lautan yang beriklim hangat, dan dapat hidup hingga berusia 70 tahun. Spesies ini dipercaya berasal dari sekitar 60 juta tahun yang lalu.

habitat

Hiu paus menghuni semua lautan tropika dan ugahari yang bersuhu hangat. Ikan ini diketahui beruaya setiap musim semi ke wilayah paparan benua di pesisir Australia barat. Musim berpijah hewan-hewan karang di Terumbu Karang Ningaloo diketahui telah meningkatkan ketersediaan plankton bagi ikan-ikan besar ini. Meskipun biasanya hidup menjelajah di tengah samudera luas, secara musiman terlihat adanya kelompok-kelompok hiu paus yang mencari makanan di sekitar pesisir benua, seperti di Australia barat itu; di Afrika Selatan (pantai selatan dan timur), Belize, Filipina, India, Indonesia, Honduras, Madagaskar, Meksiko, Mozambik, Tanzania, serta Zanzibar. Tidak jarang ikan-ikan ini terlihat memasuki laguna atau Atol, atau mendekati estuaria (muara sungai).

Makanan

Hiu paus merupakan salah satu dari tiga spesies hiu, yang diketahui makan dengan cara menyaring air laut. Makanannya di antaranya ialah PlanktonKrill, larva kepiting pantai, makro Alga, serta hewan-hewan kecil Nekton seperti Cumi-cumi atau Vertebrata kecil. Geger lintang juga diketahui memangsa ikan-ikan kecil serta hamburan jutaan telur dan sperma ikan yang melayang-layang di air laut semasa musim memijah gerombolan ikan.

Hiu paus raksasa ini makan secara pasif dengan cara membuka mulutnya lebar-lebar sambil berenang perlahan-lahan, membiarkan air laut masuk secara leluasa dan keluar di belakang rongga mulut melalui celah insang, sementara makanannya tersaring oleh lembar-lembar penyaring di mulutnya. Adakalanya, hiu paus makan secara aktif dengan membuka dan menutup mulutnya, sehingga air laut terhisap masuk rongga mulut dan kemudian tertekan keluar melalui celah insang. Pada kedua cara itu, air akan menembus lembaran filter – yang agaknya merupakan modifikasi dari sisir saring insang – secara hampir sejajar dengan lembar-lembar itu, dan bukan dengan arah tegak lurus terhadapnya, sementara aliran makanan yang lebih pekat terus berjalan ke kerongkongan ikan. Deretan gigi-gigi kecil di mulut ikan ini agaknya tidak berperan dalam proses makan. Sesekali, hiu paus terlihat ‘batuk’ dalam air, boleh jadi ini mekanisme untuk membersihkan lembaran filter dari kotoran yang menyumbatnya. Hiu ini diketahui bermigrasi dalam jarak jauh untuk mendapatkan makanannya, dan mungkin juga untuk berkembangbiak.

Konservasi

Populasi hiu paus terancam oleh aktivitas penangkapannya (dengan menggunakan harpun), atau secara tak sengaja terbawa dalam jaring ikan. Nelayan di berbagai tempat (India, Pakistan, Maladewa, Taiwan, dan Filipina) menangkap dan memperdagangkan ikan ini untuk dagingnya, minyak liver, serta siripnya yang berharga mahal. Di Indonesia, hampir setiap tahun diberitakan adanya hiu tutul yang terdampar di pantai atau terjerat jaring nelayan. Catatan ini setidaknya ada mulai tahun 1980, ketika seekor hiu paus terdampar di pantai Ancol, hingga baru-baru ini, tatkala dua ekor ikan serupa tersesat dan mati di pantai selatan Yogyakarta di bulan Agustus 2012. Akan tetapi, kejadian terbanyak adalah di sekitar Selat Madura, di mana tingginya lalu lintas kapal dan keruwetan jaring nelayan mungkin menyumbang pada kematian hiu paus di setiap tahunnya.
IUCN, badan konservasi dunia, karenanya memasukkan populasi hiu paus ini ke dalam status Rentan (Vulnerable). Kerentanan menghadapi penangkapan ikan komersial ini disimpulkan karena nilainya yang tinggi dalam perdagangan, sifatnya yang selalu mengembara dan bermigrasi dalam jarak jauh, sifat hidupnya yang menurut pola seleksi-K, serta kelimpahan umumnya yang rendah. Bersama dengan enam spesies hiu yang lain, hiu paus juga telah dimasukkan ke dalam daftar Memorandum of Understanding (MoU) on the Conservation of Migratory Sharks di bawah Konvensi Bonn.
Upaya konservasi dan perlindungan jenis ini juga telah dilakukan beberapa negara, terutama berupa larangan untuk memburu, menangkap, dan memperdagangkan hiu besar ini. Filipina, misalnya, telah menerbitkan larangan menangkap, menjual, mengimpor atau mengekspornya sejak 1998. Larangan ini kemudian diikuti oleh India pada 2001 dan Taiwan pada 2007. Maladewa bahkan telah melindunginya semenjak 1995. Akan tetapi di Indonesia hewan ini masih belum mendapatkan perhatian yang cukup memadai.

Catatan taksonomis

Hiu paus ini adalah satu-satunya anggota dari marga Rhincodon dan suku Rhincodontidae (disebut Rhiniodon dan Rhinodontidae sebelum 1984), termasuk subkelas Elasmobranchii pada kelas Chondrichthyes. Hiu paus mulai dikenal dunia ilmu pengetahuan pada April 1828, ketika seekor ikan dari jenis ini terkena harpun di Afrika Selatan. Spesimen sepanjang 4,6 meter (15,1 ft) itu kemudian dideskripsi pada tahun berikutnya oleh Andrew Smith, seorang dokter tentara dan ahli zoologi yang tinggal di Cape Town.

Referensi
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta. Hal. 213

2 komentar:

Lifia karlinda mengatakan...

Tampilan blognya lebih diperindah lagi.Pastiakan bagus..semangat yang baru belajar jdi blogger

Anita mengatakan...

Terima kasih atas masukannya lifia