Translate

Senin, 09 Desember 2019

Keberadaan Penyu Endemik di Indonesia

Keberadan Penyu Endemik di Indonesia

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari perairan, baik laut maupun darat dengan sumber daya unik yang terkandung didalamnya, baik ikan-ikanan maupun tumbuhan laut lainnya, juga mikroorganisme yang ada dilaut, berbagai jenis kura-kura, teripang, penyu, yang beranekaragam dari tingkat kingdom sampai species. Kali ini kita akan membahasmengenai keberadaan penyu endemik yang ada di Indonesia.

Penyu merupakan salah satu kura-kura laut yang ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini. Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari.

Klasifikasi penyu
GreenSeaTurtle-2.jpg
Kingdom : Animalia
                  Filum : Chordata
                               Kelas : Souropsida
                                           Ordo :Testudinata
                                                      Subordo :Cryptodira
                                                                      Superfamili :Celonioidea (Bauer,1893)
Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 - 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut, juga penyu menggunakan magnetism bumi sebagai bantuan untuk kembali ke kampung halamannya ketika saat masih menjadi tukik, dan kembali saat sudah dewasa untuk bertelur.
Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya.
Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepitingburung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.

Di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis penyu yang masih bertahan, yaitu:

      Hasil gambar untuk gambar Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi) 
  Penyu hijau (Chelonia mydas)                   Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi)

Hasil gambar untuk gambar penyu sisik                          Hasil gambar untuk gambar Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi)  
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)          Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea)

                   Hasil gambar untuk gambar Penyu pipih (Natator depressus) 
 Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)             Penyu pipih (Natator depressus)

Hasil gambar untuk gambar penyu tempayan (Caretta caretta)
Penyu tempayan (Caretta caretta).

Dari ketujuh jenis ini, hanya penyu Kemp's ridley yang tidak pernah tercatat ditemukan di perairan Indonesia.Dari jenis-jenis tersebut, penyu belimbing adalah yang terbesar dengan ukuran panjang badan mencapai 2,75 meter dan bobot 600 - 900 kilogram. Penyu lekang adalah yang terkecil, dengan bobot sekitar 50 kilogram. Namun demikin, jenis yang paling sering ditemukan adalah penyu hijau.Penyu, terutama penyu hijau, adalah hewan pemakan tumbuhan yang sesekali memangsa beberapa hewan kecil.

Isu konservasi


Dalam laporan Conservation International (CI) yang diumumkan pada simposium tahunan ke-24 mengenai usaha pelestarian penyu di Kosta Rika disebutkan, banyaknya penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.
Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.
Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk jadi Sate penyu berkhasiat untuk obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali, penyu menjadi bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnyapun diambil. Meski sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah kepunahan penyu, terutama penyu belimbing, beberapa negara telah melindungi tempat bertelur penyu. Salah satunya adalah di Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara Irian. Pantai itu baru-baru ini ditetapkan sebagai wilayah konservasi.

Begiulah sedikit description tentang penyu endemik di wilayah Indonesia, sekian. Trimakasih dan sampai jumpa pada bahan lain pada blog saya.

Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Penyu dan https://www.google.com/search?q=gambar+penyu


Download Artikel
https://www.blogger.com/blogger.g?

Sabtu, 07 Desember 2019

Analisis Sensori terhadap ikan botol gaya spanyol dengan bumbu organik alami

Si Windu Diamond

Potensi Udang Windu (Penaeus monodon) di Indonesia

Giant tiger atau Penaeus monodon di Indonesia disebut udang windu. Udang windu saat ini tidak berkembang lagi karena terserang berbagai macam penyakit udang diantaranya yang ganas adalah white spot atau virus bintik putih. Petambak udang di Indonesia saat ini banyak memelihara udang putih atau Litopenaeus vannamei. 

Hasil gambar untuk udang windu
Kingdom : Animalia 
                  Filum :  Crustacea               
                                Kelas : Malacostraca
                                             Sub : Malacostraca                                                    
                                                       Ordo : Dekapoda  
                                                                   Genus : Penaeus     
                                                                                 Species : P. monodon
                                                                                                                                                                
Persebaran udang Windu
  Distribusi yang alami di Pasifik barat Indonesia, berkisar antara pantai Afrika, dari Semenanjung Arab sampai Asia Tenggara, dan Laut Jepang. Mereka dapat juga ditemukan di Australia, dari Austria timur, dan sejumlah kecil mempunyai koloni di Laut Tengah melalui Terusan Suez. penyeberangan populasi lebih lanjut di Hawaii dan Lautan Atlantik termasuk Amerika Serikat ( FloridaGeorgia dan South Carolina).
       Secara morfologi tubuh Udang Windu dibedakan atas cephalothorax yang terdiri atas kepala dan dada serta bagian abdomen (perut). Pada bagian kepala terdapat sepasang mata bertangkai, sepasang antena, sepasang antenula, sepasang mandibula dan sepasang maksila. Pada bagian dada terdapat tiga pasang maksiliped dan lima pasang kaki renang (pleopod) serta sepasang uropod yang terletak di samping telson. Bagian kepala dan dada tertutup oleh sebuah kelopak kepala atau cangkang kepala yang disebut karapas dan di bagian depan kelopak kepala terdapat rostrum yang memanjang dan bergerigi
      Udang Windu merupakan hewan noktural yaitu aktif mencari makanan pada malam hari, sedangkan pada siang harinya berada di dasar laut (Tseng,1987). Sifat yang umum pada udang adalah sifat kanibal yaitu suatu sifat yang suka memangsa jenisnya sendiri. Sifat ini sering timbul pada udang yang sehat, yang tidak sedang ganti kulit dan kekurangan makanan. Udang Windu hidup normal pada kisaran temperatur air (21-32)oC dengan kisaran temperatur optimal (28 ± 1)oC. Udang Windu mengalami stres pada temperatur 20oC atau kurang dan 32oC atau lebih dan akan mengalami kematian pada temperatur 35oC.
     Moulting, yaitu proses alami pertumbuhan udang dengan cara berganti kulit atau sebagai respons terhadap perubahan lingkungan yang bersifat drastis.Pengelolaan air tambak sedapat mungkin tidak menimbulkan guncangan terhadap keseimbangan perairan agar tidak terjadi moulting massal, karena pada saat moulting udang berada dalam kondisi yang lemah dan sangat rentan terhadap penyakit dan pemangsaan.
       Udang windu bisa hidup dengan tenang dan tumbuh besar, jika keadaan lingkungan yang baik,tidak ada gangguanya, udang windu dapat tumbuh dengan pesat, dalam waktu 5 bulan benih udang yg kurang lebih besarnya 2 cm dapat mencapai berat 75 - 200 gram per ekor dan panjang dari 20 - 35 cm. dengan pertumbuhan yang semakin pesat,maka udang mengalami pergantian kulit yang cukup pesat pula, jadi kondisi udang akan semakin lemah. Udang windu sering hidup di dasar perairan/tambak, sehingga kondisi air harus memenuhi selera udang windu, sperti jika airnya tercemar dan banyak mengandung senyawa beracun dan juga makanan yang kurang, kadar garam naik, suhu naik, oksigen larut kurang, tambak mengandung karbon dioksida (CO2), amoniak (NH3), asam sulfat (H2SO4), pH berubah atau keruh, udang mempunyai sifat kanibal, apabila makannya tidak ada lalu dia lapar, makan sejenis yang juga akan di makan. udang windu mencari makan pada malam hari, udang windu suka molukas, kepiting kecil,ikan-ikan kecil, dan udang-udang yang kecil juga makanannya.
Referensi

Minggu, 24 November 2019

Potensi Hiu Paus diIndonesia

Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Taman bermain hiu paus (whaleshark)
Hiu Paus di Indonesia 
Kekayaan alam laut Indonesia sangat beranekaragam baik hewan maupun tumbuhan. Salah satu kekayaan pada bidang perikanan yaitu, Hiu paus (Rhincodon typus) adalah hiu pemakan plankton yang merupakan spesies ikan terbesar. Ia memiliki  nama Inggris yaitu,  whale shark, karena ukuran tubuhnya yang besar dan kebiasaan makannya dengan menyaring air laut menyerupai kebanyakan jenis paus. dan hiu tutul (nama yang cenderung menggambarkan, karena banyak jenis hiu yang berpola tutul), merujuk pada pola warna di punggungnya yang bertotol-totol, serupa bintang di langit. Hiu paus ini bukan hanya terdapat di Taiwan, tetapi juga ada di Indonesia, tepatnya terdapat di Pulau Papua Teluk cendrawasih, sehingga saat ini hal tersebut menjadi salah satau daya tarik bagi turis yang berkunjung ke pulau itu. Mereka rela menghabiskan waktu hanya untuk menikmati pemandangan hiu paus yang sangat besar. Bukan hanya itu hiu paus yang terdapat diteluk cendawasih sangat jinak dan bersahabat dengan para penyelam. Hiu paus sudah menjadi teman bagi para penyelam yang sudah terbiasa menyelam diteluk tersebut. Hiu paus termasuk salah satu hewan langkah, sehingga terdapat larangan untuk membunuhnya.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih yang luas di bagian utara pulau Papua, atau dikenal sebagai Teluk Cenderawasih, termasuk taman nasional laut terbesar di Indonesia, dan merupakan salah satu tempat menyelam terbaik di Nusantara.
Di sini adalah tetesan vertikal yang megah, taman karang yang indah, kehidupan spons dan berjuta ikan.

Ini adalah taman bermain salah satu hewan terbesar di dunia: Hiu Paus (whaleshark) yang berbintik atau Rhincodon typus. Jika di tempat lain di dunia penyelam menganggap dirinya beruntung untuk bertemu salah satu atau beberapa, di sini mereka datang dalam jumlah yang besar dan penyelam bisa berenang bersama mereka tanpa cedera selain untuk berhati-hati untuk tidak terkena salah satu dari sirip mereka yang kuat.
 
Klasifikasi Ilmiah,
Kingdom  : Animalia
Filum       : Cordata
Kelas        : Chondrichthyes
SubKelas  : Elasmobranchii
Ordo         : Orectolobiformes
Famili       : Rhincodontidae
fil
SubKelas   : Elasmobranchii
Genus        : Rhincodon
Species      : R. typus
Hiu ini mengembara di samudera tropis dan lautan yang beriklim hangat, dan dapat hidup hingga berusia 70 tahun. Spesies ini dipercaya berasal dari sekitar 60 juta tahun yang lalu.

habitat

Hiu paus menghuni semua lautan tropika dan ugahari yang bersuhu hangat. Ikan ini diketahui beruaya setiap musim semi ke wilayah paparan benua di pesisir Australia barat. Musim berpijah hewan-hewan karang di Terumbu Karang Ningaloo diketahui telah meningkatkan ketersediaan plankton bagi ikan-ikan besar ini. Meskipun biasanya hidup menjelajah di tengah samudera luas, secara musiman terlihat adanya kelompok-kelompok hiu paus yang mencari makanan di sekitar pesisir benua, seperti di Australia barat itu; di Afrika Selatan (pantai selatan dan timur), Belize, Filipina, India, Indonesia, Honduras, Madagaskar, Meksiko, Mozambik, Tanzania, serta Zanzibar. Tidak jarang ikan-ikan ini terlihat memasuki laguna atau Atol, atau mendekati estuaria (muara sungai).

Makanan

Hiu paus merupakan salah satu dari tiga spesies hiu, yang diketahui makan dengan cara menyaring air laut. Makanannya di antaranya ialah PlanktonKrill, larva kepiting pantai, makro Alga, serta hewan-hewan kecil Nekton seperti Cumi-cumi atau Vertebrata kecil. Geger lintang juga diketahui memangsa ikan-ikan kecil serta hamburan jutaan telur dan sperma ikan yang melayang-layang di air laut semasa musim memijah gerombolan ikan.

Hiu paus raksasa ini makan secara pasif dengan cara membuka mulutnya lebar-lebar sambil berenang perlahan-lahan, membiarkan air laut masuk secara leluasa dan keluar di belakang rongga mulut melalui celah insang, sementara makanannya tersaring oleh lembar-lembar penyaring di mulutnya. Adakalanya, hiu paus makan secara aktif dengan membuka dan menutup mulutnya, sehingga air laut terhisap masuk rongga mulut dan kemudian tertekan keluar melalui celah insang. Pada kedua cara itu, air akan menembus lembaran filter – yang agaknya merupakan modifikasi dari sisir saring insang – secara hampir sejajar dengan lembar-lembar itu, dan bukan dengan arah tegak lurus terhadapnya, sementara aliran makanan yang lebih pekat terus berjalan ke kerongkongan ikan. Deretan gigi-gigi kecil di mulut ikan ini agaknya tidak berperan dalam proses makan. Sesekali, hiu paus terlihat ‘batuk’ dalam air, boleh jadi ini mekanisme untuk membersihkan lembaran filter dari kotoran yang menyumbatnya. Hiu ini diketahui bermigrasi dalam jarak jauh untuk mendapatkan makanannya, dan mungkin juga untuk berkembangbiak.

Konservasi

Populasi hiu paus terancam oleh aktivitas penangkapannya (dengan menggunakan harpun), atau secara tak sengaja terbawa dalam jaring ikan. Nelayan di berbagai tempat (India, Pakistan, Maladewa, Taiwan, dan Filipina) menangkap dan memperdagangkan ikan ini untuk dagingnya, minyak liver, serta siripnya yang berharga mahal. Di Indonesia, hampir setiap tahun diberitakan adanya hiu tutul yang terdampar di pantai atau terjerat jaring nelayan. Catatan ini setidaknya ada mulai tahun 1980, ketika seekor hiu paus terdampar di pantai Ancol, hingga baru-baru ini, tatkala dua ekor ikan serupa tersesat dan mati di pantai selatan Yogyakarta di bulan Agustus 2012. Akan tetapi, kejadian terbanyak adalah di sekitar Selat Madura, di mana tingginya lalu lintas kapal dan keruwetan jaring nelayan mungkin menyumbang pada kematian hiu paus di setiap tahunnya.
IUCN, badan konservasi dunia, karenanya memasukkan populasi hiu paus ini ke dalam status Rentan (Vulnerable). Kerentanan menghadapi penangkapan ikan komersial ini disimpulkan karena nilainya yang tinggi dalam perdagangan, sifatnya yang selalu mengembara dan bermigrasi dalam jarak jauh, sifat hidupnya yang menurut pola seleksi-K, serta kelimpahan umumnya yang rendah. Bersama dengan enam spesies hiu yang lain, hiu paus juga telah dimasukkan ke dalam daftar Memorandum of Understanding (MoU) on the Conservation of Migratory Sharks di bawah Konvensi Bonn.
Upaya konservasi dan perlindungan jenis ini juga telah dilakukan beberapa negara, terutama berupa larangan untuk memburu, menangkap, dan memperdagangkan hiu besar ini. Filipina, misalnya, telah menerbitkan larangan menangkap, menjual, mengimpor atau mengekspornya sejak 1998. Larangan ini kemudian diikuti oleh India pada 2001 dan Taiwan pada 2007. Maladewa bahkan telah melindunginya semenjak 1995. Akan tetapi di Indonesia hewan ini masih belum mendapatkan perhatian yang cukup memadai.

Catatan taksonomis

Hiu paus ini adalah satu-satunya anggota dari marga Rhincodon dan suku Rhincodontidae (disebut Rhiniodon dan Rhinodontidae sebelum 1984), termasuk subkelas Elasmobranchii pada kelas Chondrichthyes. Hiu paus mulai dikenal dunia ilmu pengetahuan pada April 1828, ketika seekor ikan dari jenis ini terkena harpun di Afrika Selatan. Spesimen sepanjang 4,6 meter (15,1 ft) itu kemudian dideskripsi pada tahun berikutnya oleh Andrew Smith, seorang dokter tentara dan ahli zoologi yang tinggal di Cape Town.

Referensi
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta. Hal. 213